Text
HADIS DAN MEDIA SOSIAL: Rekonfigurasi Otoritas dan Wacana Keislaman Kontemporer
Di zaman ketika layar gawai lebih sering disentuh ketimbang lembar kitab dibuka, sabda Nabi tak lagi hanya bergema di ruang pengajian. Ia hadir di linimasa—ringkas, visual, kadang provokatif—lalu berkelindan dengan komentar, like, dan share yang bergerak cepat. Hadis dan Media Sosial: Rekonfigurasi Otoritas dan Wacana Keislaman Kontemporer membaca lanskap baru ini dengan jernih, tanpa tergesa menghakimi. Berangkat dari kerangka Digital Religion yang dikembangkan Heidi A. Campbell dan konsep Cyber Islamic Environments dari Gary R. Bunt, buku ini menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar panggung tambahan bagi dakwah, melainkan ruang yang ikut membentuk cara hadis dimaknai. Di bawah kendali algoritma, legitimasi tak lagi hanya bertumpu pada kekuatan sanad dan kedalaman matan. Ia juga ditentukan oleh seberapa sering sebuah kutipan muncul di linimasa, seberapa jauh ia dibagikan, dan seberapa ramai ia diperbincangkan.
Melalui netnografi, analisis wacana kritis, framing, dan hermeneutika, para penulis menelusuri jejak hadis yang berseliweran di media sosial—dari soal perempuan hingga silang sengketa teologis—lalu menemukan satu pola: di ruang yang bergerak secepat guliran jempol itu, teks keagamaan kerap dipadatkan menjadi kutipan singkat yang terdengar tegas dan seolah tak menyisakan ruang tafsir. Padahal kenyataannya tak sesederhana itu. Di balik unggahan yang tampak final, ada percakapan yang hidup—ada yang menyanggah, ada yang bertanya, ada pula yang menawarkan pembacaan lebih empatik dan berkeadilan. Karena itu, buku ini tidak berhenti pada kritik atas gejala simplifikasi atau riuhnya viralitas, melainkan mengajak pembaca mengambil jeda, menunda penghakiman, dan menyadari bahwa setiap hadis yang dibagikan di ruang digital membawa tanggung jawab etis—sebab di balik setiap layar, selalu ada manusia yang terdampak.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain